18
Nov
08

Goodle oh Goodle

Goodle Crew, the member of Computer Network Lab of EEPIS-ITS

di milis telkom, Iqbal (salah satu member goodle crew) ngasih tau bahwa :

Iqbal bilang “Kalau menurut saya, salah satu cara untuk meminimalisir kurangnya softskill di PENS (sebagaimana yang dikeluhkan email dibawah), adalah dengan mengoptimalkan Ormawa (Hima dan BEM).”
Terus aku tanya balik ke Iqbal :
soko curhatan ne alumni2 mau,…
ne nang goodle kurang opo Bal ???

+ – nya di goodle apa ?

tapi saiki buyar :D

Iqbal jawab lagi :

Goodle..
Softskill nang goodle sedikit banyak yo wis terasah kali ya bos..
awak dewe biyen kan ono latihan presentasi juga, terus sempat nggawe training2 juga (sing maju lan ngomong nang ngarep yo arek2).
Terus masalah penyajian laporan, ketok’e goodle yo sing paling abot timbang liyane (Buku TAku dewe ae halaman’e bertambah hampir 2 kali lipat, gara2 revisi sampean, haha…). Bahkan, tanda baca juga sempat sampean teliti. Dadi masalah penyajian laporan, (timbang liyane) goodle yo lumayan luwih unggul.
Mungkin kurang’e, kita belum teruji.
Sudah terasah.. tapi belum teruji.
Kita (waktu itu) berkutat di PENS dan sekitarnya, yang notabene lingkungannya udah tertata, dan dalam beberapa hal, kita diatas rata2. jadi, kemampuan presentasi atau sosialisasi dan sebgaianya kurang teruji. Kemampuan teknik, sepertinya juga begitu. Dikampus, kita mungkin terbaik, tapi diluar itu.. who knows ?
Cuman, kayak’e angkatan dibawahku (Zulfan dkk) udah mulai ngikut lomba2 keluar, jadi untuk point itu, udah ada peningkatan lah.. hehe.
Kalo dari sisi softskill mungkin seperti itu bos.
kalau sisi yang lain, mungkin kita kurang bisa sosialisasi kali bos, kurang membumi. Manfaat dari kehadiran kita kurang bisa dirasakan dan dinikmati oleh pihak2 lain dipoltek.
Memang ada sih yang merasakan dan menikmati kehadiran kita, tapi belum meluas.
tapi saiki buyar :D
Nahh.. iki bos…
Goodle itu ya..
minus sing paling utama, menurutku malah terdapat pada apa yang jadi nilai plus utama dari goodle itu sendiri.
Yaitu.. hehe.. Sampean bos.
Maksudnya
Goodle itu masih terlalu bergantung pada figur sampean.
Dadine, ketika, sampean berangkat ke jepun, dsb, agak kocar-kacir.
Disamping itu, kita juga tergantung pada fasilitas dari poltek, kurang mandiri.
Terus enak’e piye.. ?
Goodle jangan bubar, vacuum sementara ndak papa.
Sementara, kita berpencar seperti ini, mengembangkan diri di bidang masing2.
Nanti, barengan sampean balik dari jepang, kita coba ngumpul2 maneh.
Insya Allah, waktu itu potensi2 dari masing2 personel akan lebih meningkat dari sekarang.
Dan semoga, bisa lebih mandiri dan memberi manfaat lebih besar dari sebelum2nya…
Terus untuk sekarang ?
Mulai aktif berkomunikasi kembali via milis.
Saling menyemangati, saling berbagi.
Kalau perlu, bikin milis baru aja bos, biar mandiri. yahoogroups juga ndak papa.
Biar lebih awet, ndak kuatir kalo sewaktu2 ada kebijaksanaan baru di PENS.
Lebih mandiri.. merdeka.., hehe..  .
Wis, sak munu sek bos..
Suwun, wis nyopo ndisik’i..
Assalamualaikum.

gitu jawabannya Iqbal,…

kalo menurut yang lain gimana ?

supaya bisa lebih bermanfaat lagi ke masyarakatnya? Peningkatan pembuktian di luar lingkungan PENS ? Kemandiriannya ?


15 Responses to “Goodle oh Goodle”


  1. 1 budifat "sunyas"
    November 18, 2008 at 1:30 pm

    Lapor ndan … Siswa Budi mohon ijin bicara … http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/04.gif

    Lak aq yah. Usulan Iqbal ttg goodle ga usah bubar se7 bgt, Lha udah di rintis dari NOL koq. Tapi ga perlu vakum. Goodle khan ga hanya di markas PENS-ITS. Meskipun udah tersebar luas ke seluruh pelosok bumi (Boss nya di Jepun http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/04.gif) khan masih ada fasilitas internet untuk saling berinteraksi antar anggota. Pake Milist ato chat ato bahkan pake Vidcom hehehehheheheh ………

    Berhubung Goodle brkt dari open source, anggota mlh bisa memberikan ’sesuatu’ pada publik. Sharing project yang di kembangkan oleh Goodle-Crew baru kemudian di launch. Gmn ???

    Untuk peningkatan pembuktian di masyarakat ??? Kalo boleh usul neh. Gimana kl Goodle di PENS-ITS di jadikan ‘resmi’ ?? Seperti ada semacam sertifikasi open source gt. ???

    Kalo kemandirian .. ???
    Mmmmmmmm … Kembali ke pribadi masing2 anggota. Dari awal masuk Goodle sebenarnya udah dididik untuk mandiri. Gimana ga bergantung pada satu Platform, ngembangin kreatifitas masing2 crew.

    Dari situlah harusnya qt belajar. Dulu khan Kebo ga selalu ada di Lab. (Dateng kl ada perlu aja). Dan Kebo pun ga pernah ngasih petunjuk sampe detil … (cuman ‘kulitnya’ doank.. tipis lagi http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/04.gif).

    Meski Kebo jauh nan di sana. Khan masih bs share ttg knowledge. Ttg apa2 yang sedang di kerjakan.

    Sekian terima kasih.
    Maap bila ada salah…. SALAM GOODLE-CREW

  2. November 18, 2008 at 2:47 pm

    Dari awal tujuan goodle itu dibentuk kan untuk menyelesaikan tugas proyek akhir sebagai syarat kelulusan, tapi dalam lingkupnya apa yang kita dapet di goodle ga melulu soal itu.

    transfer ilmu yang ada di dalamnya jauh melebihi apa yg jadi point utama pak, yo sinau opo ae sing nyambung akeh (ngajar seminar, gawe pelatihan, masang antenna) termasuk pas sampeyan nerangno materi” ini yang benernya yg membuat temen” yang ada di lab betah dan sedikit berbobot.

    kalo seandainya goodle lebih aktif memasyarakat koyo komunitas opensource lainya klpi,klas. mungkin kemampuan dari anggotanya bisa tambah terupdate, mungkin awalnya sampeyan jadi pembicara di luar arek” goodle asistan tapi ga menutup kemungkinan goodlenya yang unjuk gigi jadi trainer/pembicara.wuahh isok” dari organisasi cilik isok dadi software house ato apalah meskipun itu perlu proses yang ga sebentar.

    contohnya saja saiki ae arif wes dadi trainer nang indolinux kan pak.

    jadi bisa banyak kemungkinan pak goodle independent ato tetep bernaung dibawah pens, ya koyo mas bud dibuat resmi gt pak. setidaknya pens ga terkenal ambe robote ae selain itu juga ada goodle crewNya. kan jurusan nang pens ga mlulu elka ono telkom, it n more.
    tp lepas dari itu tergantung pihak manejemen si pak bisa sejalan ngak.

    goodle vacum dulu, tp milist goodle aktifkan lagi pak..

    #mas iqbal, Goodle itu masih terlalu bergantung pada figur sampean.
    faktor ini memang masih sangat berpengarug pak, istilahnya memang iconnya.
    memang perlu pak, mgkin setelah sampeyan balik ngajar. bpk” dosen yang sing seneng ngoprek” dan sejalan ajakin gabung, trs recreuitmen goodle” baru istilahnya semakin banyak yang mensupport kan semakin cepat berkembang pak.nanti kan bisa dilihat arahnya kemana pak..

    Segitu dulu uneg”Nya pak, sukses buat goodle crew.

  3. November 18, 2008 at 3:31 pm

    Bahasan menarik bos….

    menurutku dari komentar iqbal sebagian benar, dan dari komentar budi juga benar.
    Softskill di PENS untuk keseluruhan mahasiswa kurang dan ini bergantung individu masing-masing namun jika kita khususkan pada Goodle, “softskill” hal ini lebih dari tercukupi. kenapa? seperti yang dikatakan mas IQBAL, satu hal karena kita dididik mandiri saat masuk goodle. Mungkin salah satu contoh kita ingat ketika nginstall debian pertama kali, cuman dikasih kisi2 aja dan disuruh cari di internet, walaupun akhirnya masih diberi solusi dari si jendral (namanya juga belajar) dan setelahnya kita dididik membuat dokumentasi (hal terlemah yang dimili orang teknik) untuk catatan dan pembelajaran lebih lanjut, terakhir kita dibekali untuk berani bicara dalam training serta workshop (walaupun dalam workshop ada tangan2 usil ganggu, hehehehehe……yang suka nge-kill proses lewat pda).

    Dalam praktikum kita juga dibekali untuk membimbing adik kelas dalam memahami apa yang diutarakan mas dhoto. Presentasi TA, training2 kecil (router, server serta networking) dan juga literature yang diberikan juga mendukung (sing dikei nang aku..bahasa inggris tok, pusing deh).

    Sebetulnya di goodle udah komplit, hanya saja satu kekurangan dan saya masih ingat. Ketika ngajuin project bandara juanda ke JICA (ibu2 dari jepang…yang di PENS), goodlers gak ada yang bisa ngomong pake bahasa inggris dan yang ngomong hanya jendralnya (malu2in deh, hahahaha…termasuk aku). Mungkin klo bisa kedepan di goodle dibiasakan presentasi atau bicara dalam bahasa inggris. Itu sangat penting. Dan selama ini kekurangan kita hanya tidak terbiasa untuk berbicara bahasa inggris (rasa takut salah dan grogi….yang selalu mempengaruhi). dan saya telah mengalaminya ketika meeting dengan temen-temen di permata yang hanya mau berbicara dalam bahasa inggris.

    jika goodle vacum, menurutku jangan, karena itu ada forum/media untuk mengembangkan diri. kumpul2, sharing pengetahuan, dan mungkin bagus usulan dari MAS BUDI HANDUK….hehehehe, peace bro

    Mungkin jika dulu dengan bos, sekarang ketika kerja kita dituntut mengembangkan diri kita sendiri. Ada efeknya ketika kita bekerja, apalagi di temapat saya yang notabene harus “learning by doing” alias autodidak. Toh mungkin bagi kita, berfikir bagaimana caranya setiap saat bisa update teknologi tanpa bimbingan bos lagi. Ada yang bekerja di vendor, ada yang suka dilapangan dan lain-lain. Mungkin itulah solusi bagi kita untuk mengembangkan diri diluar goodle.

    Mungkin klo dibilang “softskill itu bergantung dari masing-mansing individu” menurutku, hal ini ada sisi benar tidaknya. benarnya, mungkin seperti apa yang dikatakan mas budi namun karena kita semua di goodle yang notabene bos dhoto, bos nonot, bos amang, bos dadet dan bos titon dijadikan sebagai figur sukses. figure yang bisa memberikan semangat dan tuntunan serta pengalaman.
    masih ingat kata-kata mas dhoto pas acara seminarnya pak budi raharjo, “harusnya jangan seminar aja, klo bisa ada workshopnya, jadi tidak terkesan ngomong tok”
    trus ketika training kecil2an tentang router “konsepnya harus kuat”
    so dari situ kita harus bisa memadukan antara eksperimen dan konsep…alias itu bekal ketika kita lepas dari goodle.

    Coba bayangin klo mereka yang tidak tersentuh dengan kondisi seperti goodle, HIMA dan ormawa yang pikiran mereka masih dibumbui pikiran masa SMU, dan Mungkin ini Tugas SEMUA untuk memberikan pandangan ke adik-adik yang lain dengan cara tersederhana memberikan sharing gambaran dunia kerja dan persaingannya kepada MANAJEMEN PENS sebagai bahan masukan untuk membangun PENS kedepan, membangun goodle kedepan.

    SALAM GOODLE-CREW
    GOODLER

  4. November 18, 2008 at 4:26 pm

    Yg jelas, goodle crew bisa dapat ilmu yg lebih dari yg lain dalam hal oprek- mengoprek.(Bahkan ada yg ngiri lho ….he he he ). Namun memang terus terang saja kontribusi goodle masih bersifat utk diri pribadi goodle. Goodle “belum” memberikan suatu sumbangan yg berarti bagi masyarakat. Apalagi sejak goodle “bubar” karena sesuatu hal, goodle seakan ga ada suaranya.

    Mestinya walaupun “bubar”, goodle tetap berusaha untuk berkarya. Walau jarak kita jauh, bukan halangan bagi kita utk bersama-sama membuat suatu proyek buat masyarakat. Apalagi kebanyakan para goodle bekerja di bidang IT.

    Kalau dulu keberadaan goodle sangat bergantung di eepis (karena fasilitasnya memadai), kini sudah saatnya goodle untuk mandiri dan membuktikan bahwa “pengkaderan” goodle sangat bermanfaat dan dapat membawa nama eepis dengan tanpa bergantung lagi. Saya kira kita bisa mengembangkan kemampuan kita untuk itu….

  5. 5 Puthut Surya
    November 19, 2008 at 2:58 am

    Nimbrung suara …

    Setuju dengan bang iqbal an semuanya…

    Goodle…di dlmnya ga cuman masalah teknologi tok…( mungkin ga terlalu pinter paling aq..kekkeek) tapi yg paling penting nurut aq..

    Goodle bisa membentuk pribadi…kebranian…Cara ngomong…smangat…di uber2 deadline…an tetep PD meski sering di amuk2…

    Minuse..kon bayar kas paling..hehehhe…

    Ya bener..goodle ga perlu vacummmm…masi bisa di di galang terus meski ga ning kampus tok…
    Pengkaderan goodle mantab…presentasi ngarep wong akeh..tugas sing akeh…and setuju karo mas toink..mang perlu lak presentasi gawe Bahasa inggris…biar brani ngomong..salah benere nomer 41..

    Mang perlu ..goodle iso memberi manfaat lebih ke masyarkat luas bos..ga cuman anggota tok..
    Ngadakno pelatihan2 gawe arek2 SD-SMP-SMA sing butuh informasi teknologi …

    Thanks gawe senior2 goodle…and bos..and goodle’ers sing iso gawe smangat trus..

  6. 6 gatra
    November 19, 2008 at 10:35 am

    mau komen apa lagi ya,,,soalnya udah terwakili sama komen2 di atas,,,cuma mau nambahin dikit,,,kalau bisa emang goodle crew jangan bubar,,,di kader terus aja,,,soal bos di jepang urusan gampang,,,masih ada internet yang membuat jarak makin gak berarti,,,di sini juga masih ada dosen-dosen yang bisa di mintai tolong untuk mendampingi goodle crew.saya setuju banget sama komen nya omenz yang “setidaknya pens ga terkenal ambe robote ae selain itu juga ada goodle crewNya. kan jurusan nang pens ga mlulu elka ono telkom, it n more.” wes bener2 setuju aku sama yang itu.bisa di buat pengimbang lah.soalnya sesuatu tanpa kontrol akan cenderung korup :D . itu dulu ya kayaknya,,,mau kuliah dulu,,,biar cepet lulus :) ,,,mosok di tinggal terus aku nek pekoro lulus iki heheheheheheh

  7. November 19, 2008 at 2:13 pm

    dari bos nonot ntah dapat darimana,…tapi kayaknya pola pikir indonesia kayak gini ya…

    perbandingan 5 Rudy & pola pikir anak Indonesia.

    Saya ingat waktu di SMA dulu, kami (murid) harus menjalani test IQ untuk
    penjurusan. Sekolah saya menetapkan bahwa murid2 dengan IQ tinggi bisa
    masuk ke jurusan IPA/Science. Murid dengan IQ sedang hanya bisa masuk
    jurusan Sosial dan yang paling rendah IQnya hanya diijinkan untuk masuk ke
    jurusan Bahasa.

    Aturan di sekolah saya ternyata berlawanan dengan aturan dari SMA swasta
    terkenal di Yogyakarta yang mengarahkan anak-anak yang ber IQ paling tinggi
    justru ke jurusan Bahasa.

    Sewaktu saya diskusi dengan Romo Mangun Wijaya (Alm) tentang kurikulum
    sekolah, Beliau mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih mewarisi
    “budaya” kolonial Belanda.

    Menurut beliau, seharusnya anak-anak yang kecerdasannya tinggi seharusnya
    diarahkan untuk masuk jurusan Sosial supaya di masa mendatang akan lahir
    ekonom, hakim, jaksa, pengacara, polisi, diplomat, duta besar, politisi dsb
    yang hebat2.

    Tetapi rupanya hal itu tidak dikehendaki oleh penguasa (Belanda). Belanda
    menginginkan anak-anak yang cerdas tidak memikirkan masalah2 sosial
    politik. Mereka cukup diarahkan untuk menjadi tenaga ahli/scientist,
    arsitektur, ahli computer, ahli matematika, dokter, dsb yang asyik dengan
    science di laboratorium (pokoknya yang nggak membahayakan posisi penguasa).
    Saya nggak tahu persis yang benar Romo Mangun Wijaya atau pemerintah
    Belanda. Hanya saja waktu itu saya yang kuliah jadi patah semangat karena
    kayaknya kurikulum di Indonesia ini hampir tidak ada hubungannya dengan
    kehidupan yang akan dijalani orang setelah keluar dari sekolah (SETUJU!)

    Kita bisa lihat, Insinyur yang menjadi politisi bahkan memimpin
    parlemen,kemudian dokter (umum) bisa menjadi kepala Dinas P & K atau tenaga
    marketing, sarjana theologia yang jadi pengusaha, dsb. Sampai saat
    ini,masih banyak orang tua dan masyarakat yang beranggapan bahwa anak yang
    hebat adalah anak yang nilai matematika dan science-nya menonjol.

    Paradigma berpikir orang tua/masyarakat ini sangat mempengaruhi konsep anak
    tentang kesuksesan. Bulan Juni 2003 yang lalu, lembaga tempat saya bekerja
    mengadakan seminar anak-anak.

    Di depan 800-an anak, Kak Seto Mulyadi (Si Komo) menunjukkan 5 Rudy.

    - Yang Ke-1 : Rudy Habibie (BJ Habibie) yang genius, pintar bikin pesawat
    dan bisa menjadi presiden.

    - Yang Ke-2 : Rudy Hartono yang pernah beberapa menjadi juara bulu tangkis
    kelas dunia.

    - Yang Ke-3 : Rudy Salam yang suka main sinetron di TV

    - Yang Ke-4 : Rudy Hadisuwarno yang ahli di bid. kecantikan dan punya byk
    salon kecantikan di bbrp kota .

    - Yang Ke-5 : Rudy Choirudin yang jago masak dan sering tampil memandu
    acara memasak di TV.

    Sewaktu Kak Seto bertanya,

    “Rudy yang mana yang paling sukses menurut kalian?”

    Hampir semua anak menjawab “Rudy Habibie”

    Sewaktu ditanyakan “Mengapa, kalian bilang bahwa yang paling sukses Rudy
    Habibie?”

    Anak-anakpun menjawab “Karena bisa membuat pesawat terbang, bisa menjadi
    presiden, dsb”

    Sewaktu Kak Seto menanyakan “Rudy yang mana yang paling tidak sukses?”

    Hampir seluruh anak menjawab “Rudy Choirudin”

    Ketika ditanyakan “Mengapa kalian mengatakan bahwa Rudy Choirudin bukan
    orang yang sukses?”

    Anak-anakpun menjawab “Karena Rudy Choirudin hanya bisa memasak”

    Memang begitulah pola pikir dan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat
    Indonesia pada umumnya yang masih menilai kesuksesan orang dari karya-karya
    besar yang dihasilkannya. Masyarakat kita banyak yang belum bisa melihat
    kesuksesan adalah pengembangan talenta secara optimal sehingga bisa
    dimanfaatkan dalam kehidupan yang dijalaninya dengan “enjoy”.

    Banyak masyarakat kita yang beranggapan bahwa IQ adalah segala-galanya.
    Padahal kenyataannya EQ, SQ dan faktor2 lain juga sangat menentukan. Dalam
    seminar tsb Kak Seto hanya ingin merubah paragidma berpikir anak-anak (dan
    juga orang tua/keluarga) . Anak-anak dan orang tua harus menyadari dan
    mensyukuri setiap talenta yang diberikan oleh Tuhan.

    Bila talenta tersebut dikembangkan dengan baik, maka kita bisa mencapai
    kesuksesan di “bidangnya”.

    Jadi untuk anak-anak yang tidak pintar matematika, anak2 tidak perlu minder
    dan orang tua tidak perlu malu atau menekan anak. Anak-anak yang lebih
    menyukai pelajaran menggambar daripada pelajaran2 lain, bukanlah anak-anak
    yang bodoh karena justru anak2 yang punya imajinasi tinggilah yang pintar
    menggambar/ melukis.

    Anak-anak yang suka ngobrol, kalau kita arahkan bisa saja kelak menjadi
    politisi atau negotiator yang baik.

    Anak-anak yang banyak bicara, kalau diarahkan untuk menuliskan apa yang
    ingin dibicarakan bisa2 menjadi penulis yang hebat.

    Mbak Dwi Setyani juga mengingatkan kita untuk lebih memfokuskan pada
    kekuatan kita dari pada “wasting time” bersungut-sungut, hanya memikirkan
    kelemahan kita.

    Saya pernah membaca pengalaman hidup seorang penyanyi di Amerika. Penyanyi
    tsb dulunya tidak PD karena wajahnya tidak terlalu cantik dan giginya
    tonggos. Saat menyanyi di pub, dia repot mengatur bibirnya supaya giginya
    yang tonggos tidak dilihat orang. Hasilnya: ia hanya bisa menghasilkan
    suara yang pas-pasan. Ketika temannya meyakinkan bahwa giginya yang tonggos
    itu bukanlah masalah, maka iapun bisa menyanyi dengan bebas dan
    meng-eksplore suara emasnya. Ternyata orang-orang mengingat penyanyi itu
    karena kualitas suaranya, bukan parasnya yang jelek dengan gigi tonggosnya.

    *** Kitapun tahu bahwa Tuhan menciptakan setiap kita (manusia) dengan
    maksud yang terbaik demi kemuliaan-Nya. Kalau saja kita meyakini hal
    tersebut, maka semua orang akan mensyukuri keadaan dan memanfaatkan

    talenta yang Tuhan berikan untuk kemuliaan-Nya.

  8. 8 subko endro
    November 19, 2008 at 3:19 pm

    ya boss, yang dikatakan abang iqbal emang bener…untuk melekukan suatu yang bener bener berpotensi tidak hanya di dalam poltek aja tapi juga harus di luar kita harus belajar untuk mandiri, kita hilangkan kefiguran atau ketergantungan pada seseorang…..

    jujur boss, suasana di lab yang dulu aku rasakan sekarang juga aku rasakan juga di kerja….
    hehehehehe tiap pagi mesti kudu presentasi nang ngarepe boss boss….mengenai hasil produksi untuk hari kemaren…..dadine wes ora kaget maneh….

    cukup disek lah boss commentnya…suwun seng akeh boss…….

  9. November 19, 2008 at 6:01 pm

    ehhm ,kalo dari aku tentang goodle ini :

    Untuk diri aku sendiri benar2 team terbaik dan menyenangkan sekali bisa tergabung disini, kelebihannya banyak ilmu dan pengalaman yang dapat diambil hard maupun softskill yang kepake bener di dunia kerja ( apalagi kerjaan ku ..:D ) . Kalo untuk detail nya sama lah pak sama anak2 diatas itu..:D .

    Sekarang kekurangannya , ehhm apa ya .. Menurut aku tidak ada visi dan misi berkelanjutan dari goodle itu sendiri, maksudnya dulu kita masuk goodle tujuan utama kita adalah TA jadi visi dan misi nya ya TA itu selesai . Sekarang TA udah selesai,.. terus kita ngapain dong ?

    Jadi ya kondisi nya kayak gini, untuk yang alumni2 hubungan kita hanya sebagai temen sharing2 ngalor ngidul aja. Aku setuju banget kalo misalkan struktur goodle lebih teroganisir, dalam artian sedikit lebih formal . Kita ada visi misi yang menampung segala saran2 teman2 diatas yang intinya supaya kita lebih berkontribusi ke masyarakat luas umumnya sehingga mengharumkan nama pens pada khususnya .

    Kalau untuk masalah “kandang” kita, aku kira dunia maya ini “kandang” yang luas dengan segala fasilitas yang cukup buat kita. Jadi kalo menurut aku kita harus merancang visi misi baru nih pak.

    Langkah pertama aktifkan milist kembali …:D

  10. November 20, 2008 at 10:01 am

    Usulan rekan2 semua bagus2, emang saatnya harus bikin kandang maya spt yg dikatakan mas Furqon.
    Sebagai langkah awal mungkin harus mempublikasikan goodle.or.id untuk yg pertama kali (apa sebelumnya sudah yah ?), tp klo di cek domain itu kok sudah expired yah, lupa atau emang dilupakan :p
    Klo bos berkenan saya usulkan untuk menghidupkan kembali domain itu, kita harus punya nama, jangan numpang vlsm.org terus, kita bangun kandang sendiri…

  11. November 20, 2008 at 12:37 pm

    dulu pernah aku buat goodle.or.id ato apa gitu,… pokok itu la :D

    terus emang expired,… dan ga sempat ngapa2in

    abis itu ya lupa dan expired,… mungkin kalo ada mas-mas yang bisa manage ya gpp,… server kan banyak yang bisa dinunuti :D

    setuju,… milis yahoogroups.com juga dah ada,… dan udah keliatan lambang goodlenya,… tapi belum di add nih,… subcribe in ya :D

    makasih makasih makasih

  12. 12 konco dhewe
    November 20, 2008 at 4:39 pm

    apik banget bos dhoto critane RUDI……. selamat bersekolah dan bereksperimen wae yo hehehehehe….

  13. November 20, 2008 at 6:12 pm

    Kalau dari aku jg nggak jauh beda sama yang di katakan temen-temen sama kakak-kakak di atas.

    Kalau dari yang aku lihat hingga kerja saat ini memang kesempatan anak-anak goodle dalam memanfaat kan fasilitas lebih dari yang lain (dimanja). Tapi setelah masuk dunia kerja di goodle sebenarnya bukan di manja tapi kita itu di beri pancing untun mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya. Setelah masuk dunia kerja ternyata ????? Pancingnya malah lebih ruwet, mesti banyak di benerin dulu kadang udah bekas kadang masih baru yang buku panduannya aja nggak ada. Jadi yo nggak jauh beda ternyata.

    Karena di goodle juga di dilatih untuk memahami basicnya dulu, maka setelah keluar pun kebanyakan akan mudah untuk mengembangkanya.

    Oya yang paling plus di goodle sistem interaksinya. Entah kenapa antar teman bisa menjadi guru, antar dosen mahasiswa bisa menjadi teman. Yang hal ini kadang nggak mudah di temuin di pendidikan kita saat itu. (Nggak tau kalau skrang)

    Untuk kurangnya memang karena Visi dan Misi (melu2 arif aaaah) kita dulu ngerjain TA jadi setelah beres ya “bubar”.
    Tapi sebenarnya tidak bubar kok, cuma kita nggak kumpul2 lagi kayak dulu.

    Tooohhh dengan milis kita masih bisa kumpul2 lagi walaupun tanpa Gulai Maryam.
    Oya buktinya.. Rumahnya bos di wordpress aja selalu rame ada tamu :) :)

    Sukses Selalu untuk Goodle Crew

  14. November 23, 2008 at 11:32 am

    mohon maaf yang udah masuk ke milistnya goodle tolong subscribe lagi yee,
    ngantuk nih malah ke del..:)

    untuk goodle yg py (id yahoo) sebagian yg saya tau udah saya invite,,

    matur thankyu..


Leave a Reply




 

November 2008
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Y! Status : isengah

Blog Stats

  • 23,733 hits